Osteoarthtritis Hip

hip_oa_intro01
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit degeneratif pada kartilago sendi yang banyak ditemukan. OA lutut lebih sering menyebabkan disabilitas dibandingkan OA pada sendi lain. Penderita OA  mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat mengganggu mobilitas penderita.
Prevalensi OA pada sendi meningkat secara progresif dengan meningkatnya usia yang merupakan faktor resiko yang kuat untuk terjadinya OA. Wanita 2 kali lebih banyak menderita OA dibandingkan pria, dimana wanita kulit hitam dengan OA lebih banyak 2 kali dibandingkan wanita kulit putih.
Dari aspek rehabilitasi medik, penyakit sendi degeneratif, dapat menimbulkan kecacatan fisik dalam beberapa tingkat, yaitu, tingkat impairmen (kerusakan sendi, terutama yang menyebabkan keluhan nyeri), tingkat disabilitas (adanya kecacatan fisik, sehingga terganggunya activity of daily living), dan handikap (tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, akibat hambatan psikologis, sosial, dan vokasional oleh karena kecacatan fisik yang dideritanya).
            Sebagian besar manajemen OA bertujuan untuk mengurangi nyeri secara farmakologis. Pemberian latihan juga sudah umum diberikan pada pasien OA, tetapi masih banyak difokuskan hanya pada impairmen lokal di sekitar sendi yang terkena seperti kelemahan otot, keterbatasan luas gerak sendi, dan nyeri. Padahal manajemen yang efektif  seharusnya juga memperhatikan keterbatasan fungsional dan disabilitas sekunder yang timbul karena impairmen lokal pada OA.4 Oleh karena itu pada tinjauan kepustakaan ini akan dibahas latihan secara holistik untuk pasien OA lutut.
 Definisi osteoarthritis menurut American Rheumatism Association (ARA) adalah ‘sekelompok kondisi heterogen yang menyebabkan timbulnya gejala dan tanda pada lutut yang berhubungan dengan defek integritas kartilgo, dan perubahan pada tulang di bawahnya dan pada batas sendi.5 Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif pada kartilago sendi dengan perubahan reaktif pada batas-batas sendi, seperti pembentukan osteofit, perubahan tulang subkondral, perubahan sumsum tulang, reaksi fibrous pada sinovium, dan penebalan kapsul sendi. Sendi yang bisa terkena OA adalah sendi-sendi benar (‘true joint’ atau diarthrosis), yaitu sendi-sendi yang mempunyai kapsul sendi, membran sinovialis, cairan sinovialis, dan kartilago sendi.
Diagnosis
Diagnosis OA lutut dibuat berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Nyeri merupakan keluhan yang paling sering terjadi pada penderita penyakit sendi degeneratif yang menyebabkan penderita datang berobat. Nyeri dipicu oleh pergerakan, dan berkurang dengan istirahat, kecuali pada tahap lanjut, rasa nyeri tetap terasa pada saat tidur. Tahap dini pada umumnya tidak terasa nyeri, oleh karena rawan sendi adalah aneural. Nyeri timbul dari mikrofraktur tulang subkhondral dan inflamasi pada membran sinovium. Struktur artikuler yang sensitif terhadap nyeri adalah kapsul sendi, bantalan lemak sendi, dan tulang subkhondral, sedangkan dari struktur ekstra artikuler adalah ligamen, tendon, dan bursa. Pada tahap lanjut, pada umumnya nyeri disebabkan oleh karena fibrosis kapsuler, kontraktur sendi, dan kelelahan otot.
Kekakuan sendi (“stiffness”), sering timbul pagi hari, dan keluhan dapat hilang dalam 15 menit. Kekakuan dapat berubah permanen, yang diduga disebabkan oleh karena terjadinya kerusakan permukaan sendi dan fibrosis kapsul. Edema persendian dapat berasal dari efusi cairan sinovial serta dapat disertai dengan eritema ringan.
Pemeriksaan penunjang rutin yang dilakukan untuk evaluasi OA lutut adalah pemeriksaan rontgen konvensional. Gambaran khas pada OA lutut adalah adanya osteofit dan penyempitan celah sendi.Berdasarkan pemeriksaan radiologi, Kellgren & Lawrence menyusun gradasi OA lutut menjadi
·         Grade 0 :  tidak ada OA
·         Grade 1 :  sendi dalam batas normal dengan osteofit meragukan
·         Grade 2 :  terdapat osteofit yang jelas tetapi tepi celah sendi baik dan tak nampak deformitas tulang.
·         Grade 3 :  terdapat osteofit dan deformitas ujung tulang dan penyempitan celah sendi.
·         Grade 4 :  terdapat osteofit dan deformitas ujung tulang dan disertai hilangnya celah sendi.
Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif yang mengenai kartilago sendi yang sangat sering terjadi. Terjadinya penyakit ini dipengaruhi oleh genetik, usia, metabolisme, dan gerakan-gerakan pada sendi. OA pada lutut sering terjadi karena lutut merupakan sendi penyangga berat tubuh yang utama.
Impairmen yang sering timbul pada OA antara lain nyeri  yang sering muncul karena stress mekanik atau aktivitas di lutut yang berlebihan,  nyeri waktu istirahat pada OA stadium lanjut, stiffness sendi, keterbatasan luas gerak sendi, kelemahan otot (terutama otot quadrisep), gangguan proprioseptif dan keseimbangan, serta gangguan aktivitas sehari-hari. Jika tidak diatasi bisa timbul disabilitas sekunder yang timbul karena impairmen lokal pada OA.
            Latihan merupakan bagian penting dalam manajemen pasien dengan OA lutut. Tujuan program latihan pada pasien OA adalah mengurangi  impairmen dan memperbaiki fungsi, melindungi sendi dari kerusakan lebih lanjut, serta mencegah disabilitas dan menurunnya kesehatan yang terjadi sekunder karena inaktivitas dengan meningkatkan level aktifitas fisik  sehari-hari dan memperbaiki daya tahan fisik.
            Penelitian menunjukkan bahwa latihan pada OA relatif aman tetapi harus disusun secara individual dengan mempertimbangkan usia, faktor komorbid, dan mobilitas pasien secara umum. Cochrane Database of Systematic Review  dan Philadelpia Panel Evidence-Based Clinical Practice Guidelines menyimpulkan bahwa latihan penguatan. peregangan, latihan aerobik dan latihan fungsional terbukti mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi fisik pada penderita OA.  Latihan juga dapat meningkatkan fleksibilitas, memperbaiki aliran darah dan kerja jantung, menjaga/menurunkan berat badan, memperbaiki mood, dan meningkatkan daya tahan tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Schumacher Jr, H; Ralph, MD; Klippel, John H, MD; Koopman, William J, MD. Osteoarthritis : Epidemiology, Pathology, and Pathogenesis. In : Primer on the Rheumatic Diseases. 10th ed. Arthritis Foundation. Atlanta, 1993. p.184-190
2.      Herry Isbagio, Bambang SH . Masalah dan Penanganan Osteoarthritis Sendi lutut. Cermin Dunia Kedokteran. 1995. hal 8-11
3.      Reni H. Masduchi. Rehabilitasi Nyeri pada Sendi Degeneratif. SMF/Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSU dr.Soetomo/FK unair. PKB Rehabilitasi Medik, Surabaya, 2005.
4.      Brandt KD. Diagnosis and Nonsurgical Management of Osteoatrhritis. 2nd ed. Professional Communications Inc. Caddo, 2000. p 53-65, 117-135
5.       Brandt KD, Doherty M, Lohmander LS. Osteoarthritis. 2nd ed. Oxford University Press. New York, 2003. p 1-7, 299-308
6.      Cailliet R. Knee Pain and Disability. F.A Davis Company. Philadelpia, 1980. p1-3,  97
7.      Moskowitz RW, Altman RD, et al. Osteoarthritis Diagnosis and Medical/Surgical Management. 4th ed. Lippincot Williams-Wilkins. 2007. p28, 258-263
8.      Elyas E. Pendekatan Terapi Fisik pada Osteoarthritis. Pertemuan Ilmiah Tahunan PERDOSRI 2002. Bidang Pendidikan da LAtihan Pengurus Besar PERDOSRI. Jakarta, 2002. hal 53-63
9.      Tulaar ABM. Peran Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik pada Tatalaksana  Osteoarthritis. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest. Februari 2006. hal 46-54
10.  The National Institute of Health. Osteoarthritis Symptoms and Treatments. (online). Available from : http//www.heartspring.net
11.  Angela BMT. Rehabilitasi Medik pada Osteoarthrits. Cermin Dunia Kedokteran. 1995. hal 32-34
12.  Stitik TP, Foye PM, et al . Osteoarthritis. In : DeLisa J, editor. Physical Medicine & Rehabilitation Principles and Practice. 4th ed. Lippincot Williams-Wilkins, 2005. p 765-785
13.  Kisner C, Cosby LA. Therapeutic Exercise Foundation and Technique. 5th ed. F.A. Davis Company. Philadelpia, 2007.p 149-222, 314-316, 744-751,
14.  Swezey LS. Rehabilitation of Arthritis and Allied Condition. In : Krusen’s Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation. WB Saunders. Philadelpia, 1990. p 679-700.
15.  Erstad S. Patellar tracking disorders : Exercises. (Online). Available from :http//www. Cigna.com
16.  Pain exercises. Knee Pain Exercise. (online). Available from:http// Painexercise.net
17.  O’Toole FW.  Exercise in the treatment of musculoskeletal disease . In : Exercise Therapy Prevention and Treatment of Disease. Blackwell Publishing. Oxford, 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s